Hari Selasa kemarin Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe telah memaparkan paket kebijakan yang ditujukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang di negara tersebut (25/6). Beberapa langkah kebijakan yang akan dilakukan antara lain penurunan pajak perusahaan dan usaha untuk meningkatkan peranan wanita dan pekerja asing di sektor tenaga kerja. Akan tetapi tampaknya para investor tidak terlalu terkesan dengan langkah-langkah tersebut.Menurut survey kepada para ekonom di Jepang yang dilakukan oleh salah satu media internasional, rencana yang merupakan “anak panah ketiga (third arrow)” dari Abenomics ini memang akan mampu meningkatkan potensi pertumbuhan ekonomi Jepang sebesar 0.2 – 1.5 persen dari level pertumbuhan saat ini yang berada di 0.5 persen. Akan tetapi menurut para ekonom, hal tersebut membutuhkan waktu bertahun-tahun sampai akhirnya dampaknya baru mulai terasa.
Pemotongan Pajak Perusahaan
Salah satu rencana yang dipaparkan Abe adalah pemotongan pajak perusahaan efektif di Jepang – yang saat ini merupakan salah satu yang paling tinggi di dunia – menjadi ke bawah 30 persen. Dijadwalkan pemotongan ini akan dilakukan dalam beberapa tahap selama beberapa tahun ke depan. Abe juga berkomitmen untuk mereformasi pengelolaan dana pension yang mencapai angka 1.26 triliun dollar.
Bank sentral Jepang yang selalu memberikan dukungan terhadap kebijakan Abe tersebut tetap berupaya untuk bersikap hati-hati. Gubernur BOJ Haruhiko Kuroda memperingatkan bahwa pemerintah tidak bisa melakukan pemotongan pajak perusahaan tanpa terlebih dulu mempersiapkan alternative sumber penghasilan negara yang mampu menghasilkan sebesar dampak pemotongan pajak tersebut. Pasalnya saat ini Jepang memiliki utang public terbesar di antara negara-negara maju. Meskipun demikian diakui BOJ bahwa pemotongan pajak untuk perusahaan akan mendorong keyakinan perusahaan untuk melakukan investasi.
Reformasi Sektor Tenaga Kerja
Dalam paparannya Abe juga menyatakan dukungan untuk meningkatkan peranan wanita dan tenaga kerja asing di sektor tenaga kerja Jepang. Sektor tenaga kerja Jepang merupakan sektor yang cukup rigid, terutama untuk tenaga kerja asing. Kebijakan imigrasi Jepang yang masih cenderung terbatas membuat sulitnya tenaga kerja asing memperoleh hak untuk mencapai posisi penting di negara tersebut.
Akan tetapi Abe menyerukan pentingnya peningkatan jumlah tenaga kerja asing yang memiliki keahlian tinggi. Sementara itu ia juga menegaskan pentingnya meningkatkan peranan tenaga kerja wanita di tengah kondisi masyarakat Jepang yang lebih banyak berusia tua. Abe juga tidak lupa memicu sektor robotik dalam rangka meningkatkan produktivitas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar