Dalam jumpa pers beberapa saat lalu, Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo mengatakan bahwa defisit transaksi berjalan membengkak dibandingkan kuartal I 2014, yang sebesar $ 4.2 miliar atau hanya 2.05% dari GDP. Terjadi kenaikan defisit sebesar 116% pada kuartal II lalu dibandingkan kuartal sebelumnya.
Agus mengklaim peningkatan beban defisit terpengaruh faktor musiman, termasuk lonjakan impor selama bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri. "Sama seperti kuartal II 2013, saat itu current account deficit adalah $ 10.1 miliar atau 4.47% dari GDP," bela Gubernur BI tersebut.
Mengacu pada komparasi tadi, Agus menilai penurunan defisit transaksi berjalan dari $ 10.1 miliar menjadi $ 9.1 miliar sudah cukup bagus. "Meskipun harga komoditas dunia masih rendah, khususnya untuk CPO, batu bara, dan karet, nilai transaksi berjalan Indonesia mengalami perbaikan," kilahnya.
BI memperkirakan postur transaksi berjalan akan semakin baik paruh ke-dua 2014 karena sejumlah perusahaan tambang mineral sudah bisa melakukan ekspor setelah memenuhi persyaratan smelter dan administrasi. Untuk akhir tahun, Agus memperkirakan defisit transaksi berjalan berada di kisaran $ 27 miliar atau turun dibandingkan angka tahun 2013 yang sebesar $ 30 miliar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar