SBY, yang akan turun pada bulan Oktober setelah berkuasa selama sepuluh tahun, mengatakan bahwa saat ini adalah bukan waktu yang kondusif untuk naikan harga bahan bakar, Jokowi mengatakan pada hari ini di Jakarta setelah pertemuan diantara mereka berdua di Bali kemarin, berdasarkan laporan dalam situs Tempo. Sekitar $24.9 milyar telah di siapkan untuk subsidi BBM dalam anggaran tahun 2015, itu mengambil sekitar 14% dari total belanja negara. SBY dan Jokowi sepakat untuk mengadakan pembicaraan lebih lanjut untuk membahas anggaran belanja, mereka mengatakan kepada wartawan di Nusa Dua Bali kemarin.
"Apa kesempatan yang terlewatkan oleh SBY untuk menyelamatkan warisannya," kata Wellian Wiranto, seorang eknomi di Oversea-Chinese Banking Corp di Singapura. " Mengingat bahwa pasar secara umum hanya miliki sangat sedikit harapan bahwa SBY akan melakukan hal yang benar dan mengurangi subsidi sebelum dia meninggalkan jabatannya, bahkan ketika selalu ada harapan untuk itu, reaksinya terlihat membisu."Menilai anggaran belanja pemerintah adalah salah satu prioritas utama untuk Jokowi, sebelum dia menduduki posisi orang nomor satu di Indonesia pada tanggal 20 Oktober nanti. Subsidi bahan bakar yang cukup besar akan membatasi kemampuan untuk mendanai agenda kebijakannya yang termasuk diantaranya adalah memperbaiki infrastruktur, berikan jaminan kesehatan dan pendidikan, pada saat ketika negara dengan tingkat ekonomi terbesar di Asia tenggar tersebut tumbuh pada laju yang paling lambat sejak tahun 2009.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar