Namun tingkat impor turun dengan laju tahunan sebesar 2.4%, dibandingkan ekspektasi kenaikan sebesar 1.7% dan pasca penurunan sebesar 1.6% di bulan Juli. Data tersebut membawa surplus perdagangan bulan Agustus ke rekor tinggi baru pada 49.8 milyar dollar, melehihi estimasi sebesar 40 milyar dollar dan menembus level tinggi bulan Juli lalu pada 47.3 milyar dollar.
"Melambatnya tingkat pertumbuhan impor menunjukkan melambatnya investasi, terutama pada sektor properti, yang mana telah menekan tingkat permintaan komoditas," ucap Julian Evans-Pritchard, kepala ekonom pada Capital Economics.
"Kedepannya, kami memperkirakan sektor ekspor akan tetap sehat seiring kondisi pada pasa negara maju terus membaik. Sementara, tingkat permintaan komoditas yang mengalami tekanan kemungkinan akan manghambat pertumbuhan impor. Sebagai hasilnya, kami memperkirakan China akan terus mencetak surplus perdagangan yang besar, yang mana dapat terus memberikan tekanan naik pada nilai tukar renminbi," tambahnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar